Jumat, 10 Oktober 2014

Sabun untuk Penginapan

Ketika tinggal di Munduk, seorang kawan meminta saya membuatkan sabun untuk penginapan miliknya. Umumnya sabun yang disediakan di hotel, homestay, atau villa, bentuknya kecil dan kemasannya luks. Namun ketika dibuka, aromanya menyengat. Ciri khas sabun murahan yang dibuat dari minyak sawit dan parfum murahan. Jika mandi memakai sabun semacam ini, coba goreskan kuku ke kulit setelah kering, pasti akan tercipta garis putih. Sabun ini membuat kulit harum, namun kering dan bersisik. 
sabun buatan sendiri yang sudah dipotong-potong namun belum dikemas

Sabun ala penginapan memiliki ciri khusus. Ukurannya kecil, sekitar 10-15 gram bobotnya, karena ditujukan buat pemakaian jangka pendek, misalnya 1-2 hari. Tak jarang, usai dipakai, sabun pun dibuang. Kerap malah tamu ogah melirik sabun 'murahan' ini. Mereka memilih membawa sabun sendiri. Namun ada juga tamu yang hobi mengantongi serta membawa pulang sabun yang diberikan hotel (termasuk saya, haha). Sebagai kenang-kenangan. 

Kondisi di atas menantang saya untuk membuat sabun dari bahan lokal, yang layak pakai, tidak murahan, tidak membuat kulit kering, cocok menjadi buah tangan tamu yang menginap, serta membuat mereka sayang pada sabun tersebut, sehingga mau memakainya sampai titik penghabisan.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Sabun Cuci dari Minyak Jelantah

Minyak bekas menggoreng atau biasa disebut minyak jelantah biasanya dibuang. Padahal minyak jenis ini -biasanya dari minyak sawit- selain mengandung lemak jenuh dan super jenuh, juga sulit diurai oleh lingkungan. Kali ini iseng saya coba mengolah minyak jelantah untuk sabun. Namun pada awalnya saya batasi pada minyak bekas menggoreng makanan non daging dan ikan, misalnya bekas menggoreng kentang, yang banyak terkumpul pada restoran fastfood.
sabun cuci dari minyak sawit bekas :D


Untuk menentukan larutan soda api (air dan soda api), saya menggunakan perhitungan bahwa minyak jelantah saya golongkan sebagai minyak sawit.

Bahan :
minyak jelantah (bekas menggoreng kentang) 800 gram
air  200-300 ml (saya memakai 260 ml)
soda api 107,88 gr (saya pakai superfat 5%)
kopi bubuk 2 sendok teh
minyak esensial setengah sendok teh

Jumat, 03 Oktober 2014

Selimut untuk Sabun

'Kamu punya plastik bekas wadah biskuit, minuman ringan seperti sari apel atau agar, atau bekas makanan?"

"Punya."

"Bagus. Itu bisa buat cetakan sabun. Juga kardus bekas bolam, odol, teh, dan sebangsanya. Oya, ada kardus sepatu nggak?"

"Nanti saya cari di gudang."

"Oke. nanti buat wadah pengeraman cetakan sabun. Penting itu."

"Oke, nanti saya cari. Apalagi?"

"Ada gombal bekas, kain bekas, bisa selimut atau pel-pelan."

"Ada, banyak."

selimut memegang peranan penting dalam pembuatan sabun :D

Ketika sambang kawan yang ngebet belajar membuat sabun itu, saya melongo. Tak ada wadah plastik bekas biskuit atau makanan ringan. Akhirnya kita memakai plastik wadah bumbunya. Untung dia memiliki kardus sepatu, yang dapat dimasuki si cetakan sabun itu. 

Rabu, 01 Oktober 2014

Aroma dalam Sabun

Ada orang yang merasa belum mandi kalau belum memakai sabun yang wangi baunya. Itu sebabnya orang pun berlomba-lomba membeli sabun 'wangi'. Padahal sabun wangi tak selalu baik buat kulit, apalagi kulit muka. Mereka yang memiliki kulit peka, gampang terkena alergi seperti gatal-gatal, kemerahan, perih jika terkena sedikit panas atau polusi, sebaiknya menghindari sabun berpewangi. Apalagi jika pewangi yang dipakai berasal dari parfum. Andai menyukai sabun berpewangi, pilihlah pewangi yang berasal dari minyak esensial.
minyak esensial buatan sendiri


Beberapa pembuat sabun rumahan lebih suka membuat sendiri minyak esensial dengan cara infus. Selain lebih alami, juga murah harganya. Cara membuat minyak esensial cukup mudah, seperti yang dapat dibaca pada link berikut ini: http://www.instructables.com/id/How-to-make-Infused-Oil/

Saya kerap membuat minyak esensial sendiri, untuk aroma sabun yang saya produksi. Biasanya saya menggunakan tabung-tabung gelas kecil bekas cat poster yang sudah saya cuci dan rebus dengan air panas. Tabung gelas kering ini saya isi dengan irisan bunga kamboja atau bunga melati segar, lalu saya siram dengan minyak zaitun. Tabung kemudian saya tutup rapat, jemur di dekat jendela selama 2 minggu. Begitulah minyak esensial infus saya dapatkan.