Rabu, 15 November 2017

Minyak Herbal Buatan Sendiri dan Aplikasinya


minyak tagetes buatan sendiri

Belakangan ini saya sibuk mengembangkan minyak herbal buatan sendiri. Mirip minyak esensial, namun tak butuh mesin penyuling untuk menghasilkannya. Proses dilakukan dengan rendaman selama berbulan-bulan, pada suhu kamar yang diatur sedemikian rupa sehingga tak terkontaminasi bakteri. Proses dapat pula dilakukan melalui pemanasan selama beberapa jam di api kecil atau peralatan mirip kompor, atau bisa dipanaskan langsung di bawah sinar matahari pada waktu tertentu dengan syarat tertentu agar kandungan herbal dan nutrisi di dalam tanaman maupun minyak tak rusak.

Beberapa minyak herbal saya pernah buat adalah minyak tagetes, minyak bunga mawar, minyak bunga kenanga, minyak bunga dan daun sepatu, minyak kopi, minyak rempah (pala, cengkeh, kayu manis, kapulaga), minyak biji pepaya dan wortel. Beberapa minyak butuh proses beberapa bulan agar kandungan herbalnya benar-benar merasuk, beberapa lainnya butuh hanya 12-24 jam lewat pemanasan dengan suhu rendah.

Dalam proses pembuatan, minyak harus dicek secara teratur untuk mengetahui sudah 'masak' atau belum. Pengecekan bisa dilakukan lewat uji kekentalan, aroma, maupun rasa (cek indra, uji fisik). Sedang uji lab bisa dilakukan untuk mengetahui komponen apa saja dalam minyak saat ini dibanding sebelum pembuatan. Jika sudah masak, minyak pun disaring dan disimpan dalam botol beling amber, lalu dimasukkan almari gelap, agar tahan beberapa bulan hingga 2 tahun, tergantung minyak pembawanya (carrier oil).

sampo kopi yang memanfaatkan minyak biji pepaya (dan kini) minyak kopi

Minyak herbal untuk beragam penyakit

Sejauh ini minyak yang saya buat lebih bersifat untuk mengobati gangguan kulit, seperti gatal, alergi, bengkak akibat gigitan serangga (minyak cengkeh, minyak kenanga, dan minyak tagetes).

Ada juga minyak untuk menjaga kelembaban kulit, mengurangi bercak hitam, dan kerut di wajah (minyak kopi, minyak mawar, minyak pala).

Sedang minyak buat menyuburkan dan menghitamkan rambut adalah minyak amla dan minyak bunga daun sepatu.

Ada juga manfaat lain, seperti mengecilkan benjolan akibat wasir/ambeian, yaitu minyak tagetes dan minyak daun ungu.

krim dan lipbalm yang memanfaatkan minyak mawar, minyak tagetes atau minyak kakao


Minyak herbal untuk produk kecantikan

Paling sering saya memanfaatkan minyak herbal sebagai campuran sabun, menggantikan fungsi minyak esensial. Hasilnya memang 'wow', aromanya lebih kuat dan enak di badan. Misalnya minyak kenanga ditambahkan dalam pembuatan sabun kombucha maupun sampo kopi batangan. Minyak kenanga pada sabun kombucha dapat membantu mengobati kulit yang bermasalah (jamur, luka, panu, kadas). Pada sampo kopi, minyak kenangan membantu menghilangkan bekas luka akibat penyakit auto imun di kulit kepala.

Sedang minyak cengkeh dan pala kerap saya gunakan untuk tambahan sabun rempah. Sabun jadi bersifat hangat di kulit, sekaligus anti bakteri dan menghaluskan. Kerap sabun rempah dapat mengatasi jerawat dan ruam alergi di kulit dengan cepat.

Sementara minyak kopi, minyak mawar, dan minyak tagetes lebih sering saya jadikan campuran krim muka dan serum (dipakai malam hari).

Ada lagi minyak yang digunakan sebagai campuran lipgloss (minyak kokoa, minyak kopi, dan minyak vanila).

Dengan membuat minyak sendiri, bisa menekan pembelian minyak esensial yang cukup mahal. (minyak esensial kualitas tinggi umumnya mahal, harga di atas Rp.100.000/5 ml. Minyak esensial yang lebih murah biasanya lebih bersifat aromaterapi ketimbang penyembuh penyakit). Memang dibutuhkan waktu yang panjang untuk memprosesnya, juga ketelitian dan kehati-hatian super, namun jika berhasil sungguh menyenangkan. Apalagi dana saya untuk membeli beragam minyak memang terbatas :P

Salam berkarya :D 

Tidak ada komentar: