Sabtu, 06 Februari 2016

Minyak Wijen, Sabun, dan Kesehatan

salah satu produk minyak wijen lokal asal kota saya :P


Ada satu jenis minyak yang mungkin tak umum digunakan dalam pembuatan sabun, namun saya selalu suka menggunakannya karena fungsi herbalnya yang luar biasa. Dialah minyak wijen, atau sesame oil.

Wijen sendiri bukan jenis makanan langka di Indonesia. Siapa yang tak kenal onde-onde, juga beberapa jenang, keciput, yang selalu bertabur biji wijen. Wijen memang lebih dikenal sebagai pelengkap kudapan. Minyak wijen juga lebih banyak digunakan dalam memasak, khususnya masakan tionghoa. Rasanya belum lengkap kalau memasak tanpa 'dikecrut' minyak wijen.

Banyak manfaat kesehatan yang dikandung dalam biji wijen. Bahkan ribuan tahun lalu, minyak wijen -yang dihasilkan dari biji wijen yang di-press- sudah digunakan sebagai 'minyak ajaib' penyembuh beragam penyakit. Dalam pengubatan ayurveda, minyak wijen digunakan untuk mengobati penyumbatan pembuluh darah, hepatitis, diabetes, dan migren.

Minyak wijen yang dikonsumsi secara teratur juga mampu menghambat pertumbuhan sel-sel kanker kulit, 

Sabtu, 30 Januari 2016

Perkenalkan, Sabun Tanah


sabun tanah isi sabun jahe





Gara-gara bertemu seniman tanah dari Jatiwangi, Majalengka, lahirlah sabun tanah. Pertemuan tidak sengaja ini terjadi di C2O library, Surabaya, saat si seniman, Gorie, baru saja tiba. Lucu melihat mobilnya diisi berdos-dos tanah liat, bahan cookies. Waktu itu langsung terlintas di benak saya untuk meminta barang beberapa genggam tanah. Bukan untuk sabun, tapi bahan pasta gigi.

Kebetulan saya diminta Rumah Intaran di Singaraja, Bali, untuk menghasilkan pasta gigi yang berbahan utama pohon intaran. Media baking soda, bubuk kunyit, bubuk kayumanis, cengkeh, dan bubuk intaran sudah saya coba, namun hasilnya ada yang 'kurang pas', sehingga melihat tanah coklat menggemaskan, hasil saringan lempung 200 mesh yang sudah disangrai pula, saya pun tergerak.

"Kalau lempung bisa dijadikan cookies alias kudapan yang enak, tentu aman dijadikan bahan pasta gigi dan sabun," pikir saya waktu itu.

Selasa, 17 November 2015

Sabun Jahe


Jahe merah (Zingiber officinale var Rubrum rhizoma) merupakan salah satu rempah andalan nusantara selain pala, lada, kayumanis, cengkeh. Khasiat jahe merah antara lain sebagai pereda nyeri dan pegal linu, pembangkit nafsu makan, penghalau masuk angin, dan menghangatkan badan.

Terinspirasi oleh khasiat di atas, khususnya kemampuan jahe merah meregenerasi sel-sel kulit, pereda nyeri dan rematik, mengobati pegal linu, maka dibuatlah sabun jahe yang memanfaatkan seperti minyak zaitun, minyak kelapa, minyak kanola, minyak kedelai, tumbuhan jahe merah, intaran, kunyit sebagai pewarna, dan beberapa minyak esensial seperti serai wangi dan lemon.

Sabun jahe selain membersihkan dan melembabkan tubuh, juga menghangatkan, mengurangi pegal, linu, nyeri otot, sehingga cocok digunakan mandi mereka yang sedang sakit, kaum manula, atau yang tinggal di tempat berhawa sejuk.

Tak ada salahnya, tinggal di daerah tropis memanfaatkan rempah tropis dalam kemasan sabun, kan?

Salam sehat,



Sabtu, 07 November 2015

Indahnya Sabun Daur Ulang

sabun daur ulang yang lembut di kulit, busanya krimi, dan teksturnya tahan lama.

Seorang pelanggan mengembalikan sabun-sabun yang dibelinya saat awal-awal saya membuat sabun. Alasannya, tidak cocok dengan jenis kulitnya. Ada sabun canola, sabun/sampo kopi, dan sabun susu. Bentuk para sabun ini memang tidak elok, karena saya belum menggunakan cetakan silikon -yang mahal itu- dan masih memanfaatkan plastik bekas wadah kue. Umur para sabun ini lbih 6 bulan, bahkan ada yang setahun.

Sabun-sabun seberat 500gr ini sudah sangat keras, sehingga sulit jika diiris tipis-tipis. Jadi saya rendam saja ke dalam air hangat selama 2 hari 3 malam. Setelah empuk, saya 'remat-remat- dengan jari tangan, mirip membuat adonan untuk roti. Setelah itu saya tambahkan teh bunga kamboja, saya panaskan di atas api kecil, dan saya tambahkan beberapa tetes vanili cair. Baru kemudian dicetak dalam bentuk 4 mawar besar dan 8 hati, tunggu sampai dingin lalu masukkan freezer semalam sebelum dilepas dari cetakan. 

Kini, sebulan berlalu, sabun 'daur ulang' ini jadi sabun andalan menghadapi cuaca kota Surabaya yang bisa mencapai 36 derajad C. Saya tak segan mandi 3-4 kali sehari menggunakan sabun 'buruk rupa' ini, karena tak membuat kulit kering, bersisik, apalagi menebal dan gosong.Teksturnya mantap, tahan lama, tidak terlalu lembut di tangan, tapi menghasilkan busa banyak dan 'creamy', dan melembabkan kulit. Mungkin karena pengaruh susu. Yang jelas, setelah sabun berbahan cocoa butter, ini sabun favorit saya.

Minggu, 04 Oktober 2015

Mengapa Sabunmu 'Telanjang'?

sabun yang telanjang


Saya sering ditanya mengapa sabunnya dibiarkan telanjang begitu saja, hanya dililit plastik tipis, tidak dibungkus dengan kertas atau kotak yang bagus, dilabeli, seperti sabun-sabun yang dijual massal di toko, swalayan, atau pasar? Kan kelihatan indah, lagipula penampilan yang indah bisa mendongkrak harga. Namun tahukah Anda kalau penampilan yang indah juga bisa meningkatkan ongkos produksi hingga 30%?

Saya tahu itu. Label, bungkus, bisa meningkatkan nilai jual sabun, baik harganya meningkat maupun pembelinya bertambah banyak. Namun saya juga ingat, tujuan awal saya membuat sabun bukan untuk produksi massal, dijual, menjadi industri -walau skala rumah tangga. Tujuan awal saya menyabun untuk mengobati kulit saya yang sensitif, kusam, gampang terkena alergi akibat bahan kimia dan polusi udara yang menjadi-jadi.

Ketika saya merasakan manfaat sabun buatan sendiri, lalu membaginya kepada orang lain yang merasakan manfaat yang sama, maka orang mulai memesannya. Tujuan mereka tentu saja awalnya sama seperti saya, mengobati diri sendiri. Mungkin karena saya kerap posting foto sabun di FB, yang coba-coba 'mengincipi' sabun saya pun mulai banyak. Dari membeli 1-2 batang sabun, lalu menjadi kiloan. Tidak masalah sepanjang saya mampu dan mau mengerjakannya. Namun adakalanya, saya tidak hendak menghabiskan seluruh waktu saya dengan menyabun. Saya butuh bepergian, melakukan penelitian di luar, menulis, membuat laporan, belajar, atau melakukan meditasi secara intensif. Acara menyabun harus berhenti sementara waktu. Bukankah orang harus mengisi dan menjalani hidupnya seefektif mungkin dengan gembira?